mangaratua

Parmalim Women

In Batak Marsada on February 16, 2009 at 9:47 am

picture20.jpg

Kartupos ini berjudul “Gervijde dans van Permalimvrouwen“(dancing of parmalim women), diterbitkan oleh Deli Courant-Medan dengan cap pos bertarikh 28/7/1916, dikirim dari Medan ke Amsterdam. Terlihat ada 5 orang wanita sedang menari(manortor) di depan ruma Batak(sopo), dihadapan mereka ada sebuah tongkat, pinggan, mangkuk dan semacam kendi tanah liat. Di sekelilingnya penari ada beberapa laki-laki dan juga anak-anak.

Mohammad Said(sejarawan, mantan wartawan Waspada-Medan) lebih suka menyebut Parmalim sebagai suatu gerakan yang hidup di zaman penjajahan dan khusus untuk menentang ‘sibontar mata’(kolonialisme Belanda) dan tidak menyebutnya sebagai sebuah ’sekte’ ialah dikarenakan ia lebih banyak melihat adanya kegiatan yang tertentu di bidang itu, walaupun harus dibenarkan pula bahwa ada berlangsung kegiatan yg bersifat ibadat yang tujuannya memuja Sang Pencipta. Menurut catatan, setelah wafatnya Sisingamangaraja XII pergerakan Parmalim semakin gencar dan berani. Ketika tahun 1915 telah terjadi pergolakan pemberontakan melawan Belanda, dengan bersusah payah akhirnya Belanda dapat mematahkan pemberontakan itu. Tahun berikutnya tepatnya pada bulan Oktober 1916 meletus kembali pemberontakan di Tangga Batu, secara masal Parhudamdam menderu dari Muara.

Bulan berikutnya bergolak terus, Desember 1916 timbul kembali pemberontakan di Rura Parira. Asisten demang waktu itu yg bernama Pangkat Rambe yang dipaksa untuk meredakan gejolak itu terpaksa melarikan diri ke Barus. Bulan selanjutnya, Januari 1917 pemberontakan meningkat dan hampir kepada puncaknya, kontelir Muller dari Siborong-borong pergi ke Pintu Bosi dan Pulo Godang bersama-sama kepala-kepala negeri mencoba untuk memadamkan pemberontakan tersebut. Hasilnya dia diserang dan pasukannya tercerai-berai dan kemudian ia pun lari ke Rura Parira dan terjebak disana, akhirnya terbunuh. Kekuatan militer yang dikerahkan Belanda dari seluruh Tapanuli dan juga bantuan dari Padang yang jumlahnya ribuan akhirnya dapat meredakan pemberontakan itu serta memulihkan kembali wibawa Belanda. Demikianlah perspektif berbeda dari Mohammad Said mengenai Parmalim.

http://kairo.nainggolan.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: