mangaratua

Women Dance

In Batak Marsada on February 16, 2009 at 9:36 am


picture41.jpg

Kartupos ini berjudul “Danzende Vrouwen“(Women Dance) diterbitkan oleh Hennemann & co di Sibolga, sekitar thn 1920. Gambarnya sangat menarik, 5 orang wanita batak sedang menari(manortor) dengan gaya yang berbeda. Sepertinya mereka sedang manortor di suatu acara pesta, terlihat pada bagian atas ada semacam tenda dengan rumbai-rumbai.

Lima orang wanita sedang manortor dalam sebuah ritual adat(pesta), dua orang diantaranya sedang menggendong anak(yang pertama dan terakhir) dan mereka juga memakai ragam ulos batak yg berwarna-warni. Ada juga terlihat seorang bapak memakai peci dibelakang wanita yang terakhir. Pada tahun 1920-an belum ada photo berwarna dan kartupos ini dicetak dengan teknik pewarnaan pada photo aslinya yg hitam-putih(B/W). Pemberian warna ulos sedapat mungkin mengikuti warna aslinya, tapi warna tersebut tidak selalu sama persis dengan aslinya.

Gambar pada kartupos ini ada hubungannya dengan “Penyair dari danau toba”, Sitor Situmorang yang nama aslinya Raja Usu. Seorang kawan bercerita mengenai gambar ini, ternyata bayi yang digendong oleh wanita yang paling kanan itu ialah Sitor sendiri ketika ia berumur kurang lebih 2 tahun. Sitor pun terkejut ketika melihat photo ayah dan ibunya itu. Dan laki-laki yang memakai topi semacam peci itu ialah ayah Sitor sendiri. Pada saat photo tersebut dibuat, ayah sitor sedang menggunakan seragam sbg Jaihutan, posisi administratur yang diangkat oleh kolonial belanda.

Manortor merupakan salah satu kekayaan seni tari Batak, dalam menari orang batak sangat serius, luwes seiring dengan musik Gondang. Ada beberapa gerakan tortor yang lazim antara lain manerser, marembas, mangurdot, dll. Dalam suatu pesta adat biasanya diberikan waktu kepada masing-masing unsur Dalihan natolu(Hula-hula, boru, dongan tubu) untuk mempersembahkan tortornya dan tidak ketinggalan juga dalam suatu pesta, kaum muda(naposo) didaulat untuk manortor.

Tortor erat hubungannya dengan alunan Gondang atau musik tradisional, gerakan tari tortor juga bergantung kepada repertoir Gondang yg sedang dimainkan misalnya saat Gondang Mula-mula dimainkan yaitu Gondang untuk memuja kebesaran Sang Pencipta, gerakan tangan penari dalam bentuk menyembah yaitu menggerakan tangan ke atas dan ke bawah. Kemudian pada Gondang Sahala, tangan digerakan berkeliling, tetapi posisi penari tetap diam pada tempatnya dengan maksud menyambut dan mengucapkan selamat-datang kepada hadirin. Pada Gondang Sahalaraja, dapat disajikan tarian bergerak dan juga sambil menyampaikan sembah hormat dan gerak tangan tidak boleh melewati kepala. Lalu jika Gondang Simonang-monang dimainkan, penari dapat menari dengan gerakan bebas ceria sebagai ungkapan kegembiraan.

http://kairo.nainggolan.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: