mangaratua

Catatan Harian Imam Bonjol

In just my opinion on March 18, 2009 at 6:17 am

Imam Bonjol meninggalkan sejumlah catatan hidupnya saat diasingkan. Ada catatan tentang jalannya pertempuran, negosiasi dengan Belanda. Tak ada tentang kebrutalan.


“Ini ada surat Kumpeni menyuruh saya datang kepada kumpeni sekarang. Bagaimana kiranya segala datuk-datuk atau baik saya pai (pergi-red) atau tidak? “

Imam Bonjol wafat di Menado. Selama di Menado, ia ternyata menuliskan semacam otobiografi yang ditulis dalam huruf Arab Melayu. Oleh anaknya, Naali Sutan Chaniago dan Haji Muhammad Amin yang ikut dibuang ke Menado, naskah itu diselamatkan.

Dalam catatan kita temui kesaksian Imam Bonjol menyerang daerah-daerah yang belum menjalankan syariah, juga kisah bagaimana ia mengirim Tuanku Tambusai ke Mekkah, yang kemudian membuat Tambusai bergelar Haji Muhammad Saleh.

Atau bagaimana di sebuah salat Jumat, ia menyerukan hukum adat bersyandi syarak. Ia melukiskan dengan agak rinci betapa ganasnya perang mempertahankan benteng Bonjol. Tapi bagian paling panjang adalah pengakuannya bernegosiasi dengan Belanda .

Diceritakan, utusan Belanda Kroner (kolonel) Elout memintanya menyerah. Ia menolak, lalu terjadi pertempuran sengit. Dikisahkannya ia memasang meriam sendiri untuk menggempur Belanda. Tapi benteng Bonjol jatuh, dan utusan datang lagi. Di Padang, ia bertemu Resident Francis.

Resident Francis : “Dulu saya minta tuanku , Tuanku tidak mau datang bertemu kami..”

Tuanku Imam Bonjol: Tempo tuan kirim surat yang dahulu tuan minta saya. Saya kasih lihat surat itu kepada raja-raja dan penghulu. Hampir saya dibunuh orang tempo itu dan dicabik-cabiknyo dek surat itu. Surat kemudian tidak kasih lihat pada penghulu. Maka itulah sekarang mencari tuan…

Imam Bonjol akhirnya mau dibawa kapal ke Betawi, Surabaya, Buton, Ambon sampai Menado. Di sanalah di Lotak Pineleng ia tinggal sampai wafatnya. Keberadaan naskah Tuanku Imam Bonjol pertama kali dilaporkan oleh PH.S van Ronkel dalam artikel “Inlandsche getuidenissen aangande de Padri-oorlog” (Kesaksian Pribumi mengenai Perang Paderi) dalam jurnal De Indische Gids, 1915.

Ronkel menyebutkan bahwa dirinya telah menyalin satu naskah berjudul “Tambo Anak Tuanku Imam Bonjol” setebal 318 halaman. Pada 2004, Sjafnir Aboe Nain dari Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM) di Padang menerbitkan transliterasi naskah Tuanku Imam Bonjol.

Kata pengantar yang ditulis Sjafnir menyebutkan bahwa salinan Ronkel itu sesungguhnya gabungan antara catatan Imam Bonjol yang berjumlah 191 halaman, ditambah catatan anaknya, Naali dan Amin. Naskah itu sendiri menurutnya dikenal dengan nama “Tambo Naali Sulthan Chaniago.”

Transliterasi dilakukan Sjafnir ke dalam bahasa Minang-Melayu, membuat naskah ini agak sulit untuk dipahami dalam waktu singkat. “Saya butuh waktu lama untuk memahami naskah ini,” kata peneliti sejarah Tapanuli Selatan, Basyral Hamidi Harahap.

Tak ada bagian dari naskah ini yang menampilkan sikap Imam Bonjol akan kekerasan yang dilakukan Padri. “Tapi saya yakin Imam Bonjol mengetahui mengenai kekejaman kaum Paderi, baik penculikan maupun pemerkosaan. Tapi ia diam saja,” kata Basyral.

Ia merujuk ada halaman yang menampilkan masalah penculikan dan jual beli perempuan ternyata dibicarakan secara terbuka dalam pertemuan suatu yang dihadiri tokoh-tokoh umat. Yakni Sultan Chaniago, Nan Pahit, Datuk Kayo, Datul Limo Koto, Rajo Minang, Punjuak Batuah dan Pado Alim.

Pailah (pergilah-red) ke rumah Malin Kecil, basua (bertemu-red) perempuan. Ditanyalah dek (oleh-red) Datuk Limo Koto perempuan itu. ‘Siapo nan manangkap di lading Batang Silasung?’ kata Datuk Limo Koto. Alah (kemudian-pen) menjawab perempuan, ‘Nan manangkap saya dicari (si Cari-red) orang Durian Tinggi. Dijualnya dek (oleh-red) si Cari itu saya kepada Rajo Manang. Dek Rajo Manang dijual pula ke Bamban.’

Sejarawan dari Universitas Andalas, Padang, Dr Gusti Asnan melihat sebagai sebuah catatan harian, Tuanku Imam Bonjol sangat tidak mungkin menuliskan fakta-fakta kebrutalan Padri. “Bila dibandingkan dengan sumber sejarah Belanda, Tuanku Imam Bonjol tidak memasukkan peristiwa pembakaran, perampokan serta penculikan dan pemerkosaan perempuan. Tapi saya pikir dia tahu mengenai kejadian itu,” ungkap Gusti.

Baik Basyral maupun Gusti melihat proses negosiasi antara Tuanku yang diwakili anaknya, Sutan Chaniago, dengan pemimpin Belanda, sama sekali tidak menunjukkan ketegangan. Adalah mengherankan-Imam Bonjol yang dikenal sebagai sosok penentang Belanda yang gigih kemudian seperti melemah. Bahkan Gusti melihat keakraban Tuanku dengan Resident Elout dan Resident Francis aneh.

“Sekarang Tuanku pergi ke negri Menado , karena negri Menado baik, tempat baik, makanan murah…”

“Sebagai seorang pahlawan nasional, apa iya Tuanku tidak merasa curiga terhadap niat Belanda?” tanya Gusti.

Sita Planasari Aquadini, Seno Joko Suyono

Majalah Tempo, Edisi 34 /XXXVI/15 – 21 Oktober 2007


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: