mangaratua

Hutan Tele, Sitor Situmorang & Sisingamangaraja XII

In Batak Marsada on March 24, 2009 at 8:55 am

sitorjaap31.jpg

Yang menewaskan Sisingamangaraja XII : Foto tahun 1907. Tentara Belanda mengejar Sisingamangaraja XII di kawasan hutan Tele. Dipimpin Hans Christoffel (memegang tongkat), mereka berpose sejenak di daerah Sagala.

Oleh : Jaap (Belanda)**

Museum Bronbeek¹ di Belanda pada bulan Januari ini menampilkan Tanah Batak sebagai tema utama. Sebuah momen yang sungguh emosional bagi penyair Sitor Situmorang, yang kini bermukim di negeri itu. Pasalnya, pewaris hutan ulayat Tele ini sempat diajak berbincang oleh Hans van den Akker, konservator Museum Bronbeek, mengenai kejadian-kejadian historis yang mengenaskan di awal abad ke-20 silam. Terutama kisah heroik pemimpin gerilya dan raja Batak terakhir Sisingamangaraja XII– amangboru kandung (paman) Sitor; yang tewas di tangan Tentara Hindia Belanda tahun 1907.

Sitor Situmorang (83) menjelaskan secara detail– tanpa mengenal lelah– peristiwa di sekitar tahun 1907 melalui perspektif tradisi Batak. Kematian tragis Sisingamangaraja XII menyebabkan “perpecahan” budaya Batak Toba. Daerah tersebut sepenuhnya berada di bawah kekuasaan kolonial Hindia Belanda.

Musim panas lalu, Situmorang berkeliling di Sumatera Utara dan menjadi tamu kehormatan acara peringatan 100 tahun wafatnya Sisingamangaraja XII.

Sitor Situmorang² dilahirkan di Harianboho, 2 Oktober 1924. Desa ini terletak di kaki gunung Pusuk Buhit yang dianggap magis dan sakral di Tanah Batak. Sitor cilik sudah biasa mendengar sajak dan cerita-cerita heroik mengenai kakek moyangnya. Salah satu cerita tersebut yang paling terkenal adalah Sisingamangaraja. Ompu Babiat, ayah Sitor, masih berkerabat dengan Sisingamangaraja dan dikenal sebagai pemimpin pasukan Sisingamangaraja.

Ompu Babiat adalah lae kandung (ipar) dari Sisingamangaraja XII. Keluarga besar Si singamangaraja dari Bakkara (pesisir selatan Danau Toba) sudah turun-temurun menikahi putri marga Situmorang di Lintong (pesisir barat Danau Toba). Di awal abad ke-20, penduduk Batak Toba hidup berkelompok dengan marga-marga otonom. Setiap daerah diorganisasi secara teratur tidak jauh dari sumber air. Bius atau sistem irigasi menjadi basis pembagian otonomi.

Setiap daerah atau clan otonom tersebut mempunyai raja. Sisingamangaraja adalah pemimpin (religius) yang paling disegani saat itu. Sisingamangaraja XII menjadi tokoh sentral setelah naik tahta di usia remaja. Ia menggantikan Sisingamangaraja XI yang tutup usia akibat epidemi kolera.

Sisingamangaraja bergerilya di hutan Tele

Di tahun 1883 terjadi konfrontasi antara Tanah Batak dengan kekuasaan kolonial yang sudah lama bercokol di Aceh. Serangan ini berlangsung di selatan Danau Toba di sekitar Balige.

Sisingamangaraja terluka di lengannya dan lari bersembunyi ke dalam hutan. Langit berubah hitam kelam. Gunung Krakatau sedang meletus saat itu. Pelariannya berakhir di Lintong. Boru Situmorang, ibunda Sisingamangaraja, berasal dari daerah ini. Popularitas Sisingamangaraja melesat sejak kejadian tersebut. Perang di areal terbuka ini sering disebut tidak berimbang. Tentara Hindia Belanda dianggap secara taktis dan teknis lebih superior.

Mulai saat itu masyarakat Batak Toba mempunyai satu musuh utama, Tentara Hindia Belanda, dan seorang pemimpin, Sisingamangaraja XII. Pada tahun 1889, gerakan kontra gerilya Sisingamangaraja dan tentaranya berpusat di Pea Raja. Ia juga memimpin rakyatnya melewati kehidupan yang cukup aman dan tentram. Sementara itu, Tentara Belanda di Aceh membentuk korps elit untuk melawan aksi militan. Korps revolusioner ini merupakan ide dari J.B. Heutsz dan islamolog C. Snouk Hurgronje.

Tentara gerilya Aceh dan Batak diawasi oleh brigade yang terdiri dari maksimal 16 serdadu pribumi di bawah pimpinan komandan dari Eropa.Mereka dipersenjatai dengan karabin dan klewang. Brigade ini beroperasi amat cepat dan akurat. Posisi Aceh semakin terdesak dan perlawanan Aceh dapat dibendung oleh Tentara Hindia Belanda. Tanah Batak kembali menjadi daerah incaran kolonialisme mulai tahun 1904. Ekspedisi mereka di bawah pimpinan Van Daalen berakhir di Gayo dan Alas.

Tanah Batak yang mereka lewati dan diperkirakan membahayakan akan dibakar, dijarah dan dibunuh penduduknya. Raja Batak menjadi target terpenting mereka saat itu. Ekspedisi lainnya mulai merambah Pea Raja, tempat persembunyian pemimpin perlawanan Bangso Batak itu. Sisingamangaraja XII harus bersembunyi lebih dalam lagi ke hutan belantara bersama keluarga dan pengikutnya.

“Mereka seperti bermain petak-umpet,” ujar Sitor Situmorang.

sitorjaap11.jpg

17 Juni 1907 : Sisingamangaraja tertembak

Salah satu letnan dari ekspedisi ini, Colijn, yang juga pernah menjabat PM Belanda menulis surat kepada istrinya dan menyatakan kekagumannya terhadap tokoh Sisingamangaraja yang disucikan dan peninggalan berharga mereka yang dibiarkan begitu saja sewaktu bersembunyi ke dalam hutan.

Tentara Hindia Belanda di bawah pimpinan Hans Christoffel dilengkapi empat brigade bertolak ke kawasan Batak Toba di bulan Maret 1907. Brigade tersebut sebagian besar terdiri dari penduduk Jawa dan Ambon. Mereka ditugasi Christoffel untuk menangkap Sisingamangaraja XII, hidup atau mati.

Meskipun berperawakan kecil, Christoffel dikenal tegas, berani dan tidak mudah ditaklukkan. Selain itu, ia adalah penembak jitu dan berpengalaman melawan gerakan kontra gerilya. Tanpa membuang waktu, ia bersama brigadenya segera menyusuri daerah pesisir barat Danau Toba dan pegunungan di Pusuk Buhit.

Kondisi alam di sana sukar dan dipenuhi jurang dalam serta bukit terjal. Dalam waktu singkat, Christoffel berhasil mengumpulkan informasi mengenai tempat persembunyian Sisingamangaraja. Taktik search-and-destroy Christoffel berakibat tertangkapnya Boru Situmorang dan beberapa anaknya, namun Sisingamangaraja belum dapat disentuh. oleh Christoffel. Sampai akhirnya pada tanggal 17 Juni 1907, salah satu brigade dari Christoffel bertatap muka langsung dengan Sisingamangaraja di dekat sebuah jurang di daerah Parlilitan.

Ahu Singamangaraja,” teriaknya. (Akulah Singamangaraja)

Menurut sebuah jurnal kolonial, pertumpahan darah tidak dapat dihindari dan Sisingamangaraja gugur bersama kedua putranya. Jenazah Sisingamangaraja diusung berkeliling desa supaya rakyat tahu raja mereka telah tiada (Ini taktik Belanda untuk menjatuhkan moril Bangso Batak, supaya lebih mudah dikalahkan dan dijajah.)

Sisingamangaraja dimakamkan di sebuah garnisun di Tarutung. Belanda ingin menghindari tempat peristirahatan terakhir Sisingamangaraja menjadi semacam tujuan ziarah. Kemudian anak-anak Sisingamangaraja yang lain dibaptiskan oleh misionaris dari Rijn dan dikirim ke Jawa. Sejak saat itu, Tanah Batak menjadi bagian dari dunia “modern”.

———————————————————————————————————

Catatan:

¹Museum Bronbeek menggelar pameran De laatste Batakkoning (Raja Batak terakhir) mulai 20 Januari hingga 20 Oktober 2008. Eksposisi ini juga dilengkapi ceramah, pergelaran tari, pemutaran film dokumenter mengenai Batak dan interview dengan Sitor Situmorang.

²Sitor Situmorang dilahirkan di Harianboho, 2 Oktober 1924. Di usia 6 tahun ia pergi ke Balige untuk menempuh pendidikan. Sekolah dasarnya ia selesaikan di Sibolga dan sekolah menengahnya di Tarutung. “Kami menganggap pendidikan Belanda sebagai hal yang lumrah waktu itu,” ungkapnya. Masa pendudukan Jepang terpaksa menghentikan kegiatan akademisnya dan Sitor bergabung dengan Harian Waspada di Medan. Tahun 1946 ia pindah ke Jakarta.

Sitor termasuk sastrawan Angkatan ‘45. Ia banyak menulis esai mengenai Indonesia Baru dan perkembangannya di masa awal Republik Indonesia. Tahun 1953, setelah mengenyam pendidikan di Amsterdam dan Paris, kumpulan puisinya “Surat Kertas Hijau” diterbitkan. Selain itu masih ada beberapa kumpulan sajak, cerita pendek dan naskah drama.

Publikasi “Esai Sastra Revolusioner” di tahun 1965 di era Soeharto membuatnya harus mendekam di penjara selama 8 tahun, tanpa proses pengadilan. Selanjutnya terbit kumpulan puisi “Waktu Dinding” dan “Peta Perjalanan”.

Karya Sitor tidak hanya kental dengan tradisi Batak yang kuat, tetapi juga dipengaruhi sastrawan modern Belanda seperti Slauerhoff. Tema karya Sitor yang menonjol: cinta semu atau tidak kekal, pengembaraan dan siklus abadi kematian dan kehidupan.

Ia menjadi dosen tamu di Seksi Indonesia di Universitas Leiden (1981-1990). Setelah pensiun, Sitor sempat tinggal di Pakistan, Paris dan Jakarta. Ia dianugerahi ASEAN Write Award di tahun 2006. Kini ia menetap di Belanda.

Sumber: Majalah Moesson –Sitor Situmorang over de laatste koning aller Batak– De dag dat de hemel zwart werd (Januari 2008)

subr: http://tobadreams.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: